Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

Monday, 26 October 2015

PULAU GILI LABEK SUMENEP MADURA



Pulau Gili Labak Sumenep kini menjadi salah satu pusat wisata di Madura. Kecantikan pulau kecil ini tidak diragukan lagi. Panoramanya seolah melambaikan tangan pada para pengunjung untuk hadir dan menikmati keindahannya.
Tidak hanya mengandalkan pasir putih layaknya pulau Lombok, Gili Labak juga mengenalkan kecantikan alam bawah laut. Di beberapa titik tertentu pulau ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Karang laut yang menawan dibalut dengan ikan-ikan cantik yang berenang di sekitarnya menambah keanggunan sisi bawah laut pulau ini.

Adapun pulau ini terletak di Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep. Tepatnya di sebelah timur Poteran, atau tenggara jika dilihat dari kota Sumenep. Karena letaknya yang berada di sebelah tenggara inilah menyebabkan rute menuju pulau ini menjadi banyak. Seperti yang diketahui, di pantai sebelah timur Sumenep terdapat banyak pelabuhan kecil. Sehingga pengunjung lebih mudah memilih rute mana yang akan dijalani.



Pulau ini mempunyai luas lima hektare (ha) dan dihuni 35 kepala keluarga (KK) atau 105 jiwa. Rinciannya, perempuan 58 orang dan laki-laki hanya 36 orang, sisanya 9 orang masih anak-anak. "Pulau Gili Labak mempunyai keindahan tersendiri. Selama ini telah banyak dikunjungi wisatawan mancanegara yang sengaja datang melalui jalur laut dari Pulau Bali," kata Busyro, Sabtu 23 Juli 2011.
Menurut dia, pulau yang bisa ditempuh dari wilayah Kecamatan Talango antara 1 sampai 1,5 jam dengan menggunakan perahu layar motor (PLM) atau perahu rakyat tersebut bisa dijadikan lokasi menyelam dan snorkeling. "Potensi baharinya sangat menakjubkan. Selama ini sudah sering digunakan untuk diving dan snorkeling oleh wisatawan.

Kondisi perairan Pulau Gili Labak tersebut cukup tenang dan bersih. Ikan warna-warni terlihat jelas dari permukaan. Didukung kondisi pasir putih dan bersih membuat pengunjung betah berada dipulau yang masih perawan tersebut. Saat ini, Taman laut di Pulau Gili Labak juga acap dijadikan ajang olahraga bahari, selam dasar dan selam profesional (scuba diving).







Setiap pengunjung, selalu berusaha mengelilingi pulau tersebut, baik dengan cara menggunakan perahu rakyat maupun berjalan kaki lewat pesisir pantai. "Hanya membutuhkan 30 sampai 45 menit untuk mengelilingi pulau Gili Labak," katanya.

Penduduk Ramah
Hubungan antar warga Pulau Gili Labak yang kehidupannya berada di laut sangat ramah. Mereka juga senang bila ada pengunjung datang dari luar. Bahkan, rela menyewakan tempat istirahat bagi pengunjung dengan fasilitas seadanya. Memang, belum ada fasilitas penginapan maupun fasilitas lain sebagaimana lokasi wisata pada umumnya.

Penerangan pada malam hari di pulau di timur Pulau Madura itu menggunakan listrik tenaga surya (LTS). Bagi mereka yang mempunyai kemampuan lebih menggunakan disel listrik pribadi. Tak ada restoran atau tempat makan yang representatif bagi pengunjung, sehingga yang ingin berlama-lama di pulau tersebut perlu membawa makanan dari Pulau Poteran atau Pelabuhan Kalianget.

Ketua RT 05 Pulau Gili Labak, Abd Jalil, mengatakan, para pengunjung dari luar daerah memang perlu membawa makanan sendiri atau menghubungi setiap warga yang bisa membantu untuk memasak. "Kalau di sini hanya warung kecil yang ada dan menjual makanan instan," katanya.

Pemerintah setempat maupun dari pengusaha lokal belum melakukan sesuatu untuk mengembangkan lokasi wisata bahari di Pulau Gili Labak, sehingga kondisinya masih belum terjamah. "Kalau pagi dan sore hari ini, kebanyakan pengunjung ada di pinggir pantai menikmati hangatnya matahari. Kalau siang banyak yang berteduh di bawah ribuan pohon kelapa yang hidup subur," katanya.

Adapun beberapa rute dan transportasi menuju Pulau Gili Labek Sumenep:
1. Pelabuhan Kalianget
Rute ini merupakan salah satu rute yang paling banyak digunakan. Letaknya yang strategis memudahkan pengunjung untuk melewati rute ini. Adapun rute ini jika pengunjung berangkat dari jantung kota Sumenep silahkan ke arah timur kurang lebih 10 km. Sesampainya di pelabuhan, pengunjung cukup mencari perahu dan menyewanya untuk berlayar ke pulau Gili Labak. Akan tetapi saat ini ada banyak jasa tour yang menyiapkan perahu serta mengantarkan pengunjung hingga ke tempat tujuan.
2. Desa Lobuk
Desa Lobuk merupakan salah satu desa yang terdapat dermaga atau pelabuhan mini. Biasanya desa Lobuk merupakan salah satu rute menuju ke pulau Gili, baik Gili Genting maupun Gili Raja. Namun, saat ini dermaga di Desa Lobuk mulai rame. Banyak pengunjung desa Gili Labak memilih rute ini. Hal ini dikarenakan bagi pengunjung yang berasal dari luar Kota Sumenep akan lebih dekat melewati rute ini dibandingkan dengan rute yang lain. Pengunjung yang berasal dari luar Kabupaten Sumenep langsung belok kanan di pertigaan Bluto. Dari pertigaan ke kanan kemudian lanjutkan perjalanan ke arah timur hingga terdapat dermaga atau pelabuahn kecil di sana. pengunjung bisa langsung memesan perahu atau bisa memilih menggunakan jasa pelayaran ke Gili Labak.
3.  Tanjung Saronggi
Tempat lain yang bisa dijadikan rute menuju Gili Labak adalah Saronggi. Dari pertigaan Saronggi, silahkan berjalan ke timur hingga mencapai pantai. Disana juga terdapat dermaga yang banyak tersedia perahu kecil untuk menuju Gili Labak
4. Desa Kombang
Desa ini terdapat di kecamatan Talango. Rute dari kota hampir sama dengan yang melewati Kalianget. Bedanya, rute ini dari kalingat harus ke Talango dulu untuk melewati jalur darat hingga sampai di Kombang. Setelah itu pengunjung bisa langsung memesan perahu dengan harga yang lebih murah dan waktu yang lebih singkat.

Dari keempat rute tersebut waktu yang dibutuhkan hampir sama yakni 2 jaman. Tergantung keadaan cuaca dan angin yang kerap menganggu perjalanan menuju ke Pulau Gili Labak. Hal ini dikarenakan sampai saat ini belum ada kapal besar menuju pulau anggun tersebut. Sedangkan untuk memperoleh harga murah, maka sebaiknya dalamberangkat ke Gili Labak tidak sendirian, melainkan 8-10 orang. Karena semakin banyak, maka sewa perahu bisa menjadi lebih ringan.

Wednesday, 8 July 2015

UPACARA YADNYA KASADA BROMO

Mengenal Upacara Yadnya Kasada di Bromo  



Upacara Yadnya Kasada Bromo atau Hari raya besar Suku Tengger umat hindu di Wisata Gunung Bromo yang di sebut Kasodo. Pernah mendengar upacara yang satu ini Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo di wisata gunung Bromo yaitu sebuah Upacara sesembahan atau sesajen ini adalah untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur yang digelar setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu Tengger, Upacara adat ini digelar di Pura Luhur Poten, tepat di kaki Gunung Bromo, pada tengah malam hingga dini hari. Upacara adat suku Tengger ini bertujuan untuk mengangkat dukun atau tabib yang ada di setiap desa di sekitar Gunung Bromo.

 Hasil gambar untuk upacara kasada bromoHasil gambar untuk upacara kasada bromo

Dalam festival ini suku Tengger akan melemparkan sesajen berupa sayuran, ayam, dan bahkan uang ke kawah gunung tersebut.
Berbicara soal Gunung Bromo, Gunung Bromo merupakan bagian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Provinsi Jawa Timur, Indonesia ini adalah salah satu tujuan wisata tersohor tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Gunung Bromo memiliki keunikan panorama indah sekaligus mistis sehingga menyodorkan suasana berbeda dibandingkan gunung lainnya. Di sini terbantang keindahan lanskap pegunungan dengan asap yang membumbung dari kawahnya dan di bawahnya ada lautan pasir luas menggelilinginya, obyek yang akan di kunjungi pun beragam, ketika pagi akan menikmati wisata bromo matahari terbit atau Bromo Sunrise di Penanjakan 1 Gunung Bromo, kedua akan melihat langsung Kawah Gunung Bromo, menyelusuri Padang Savana Bromo dan terakhir menjelajahi indahnya Pasir Berbisik di wisata gunung Bromo.
Hasil gambar untuk upacara kasada bromo

Tujuan wisatawan sudah sangat jelas menikmati semua keindahan alam Bromo, tetapi hal yang unik pun yang belum kita tahu dan membuat kita penasaran salah satunya event tahunan yaitu Upacara besar Nyadnya Kasada atau Kasodo yang di adakan pada bulan Agustus-September pada bulan purnama.
Suku Tengger Bromo dikenal sangat berpegang teguh pada adat dan istiadat terutama pada Upacara Yadnya Kasada Bromo ini, dan mereka jadikan Hindu lama sebagai pedoman hidup mereka. Keberadaan suku ini juga sangat dihormati oleh penduduk sekitar termasuk menerapkan hidup yang sangat jujur dan tidak iri hati. kembali ke Sejarah Gunung Bromo tentang asal muasal Suku Tengger Bromo di ceritakan bahwa


Ritual ini sudah dilakukan beratus-ratus tahun. Suku Tengger adalah keturunan Rara Anteng (putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (putra Brahmana).  Sehingga nama Tengger merupakan nama penggabungan kedua tokoh ini. Pasangan Rara Anteng dan Jaka membangun pemukiman dan menguasai Tengger.
Sekian tahun menikah, pasangan ini merindukan anak. Keduanya memutuskan bertapa meminta Tuhan agar menganugerahkan anak. Keinginan mereka didengar Tuhan. Tiba-tiba terdengar  suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul. Hanya mereka disyaratkan untuk mengorbankan putra bungsu mereka ke kawah Gunung Bromo.

Mereka bersedia menerima syarat itu. Tuhan pun menganugerahkan 25 anak kepada pasangan ini. Pasangan ini pun menyayangi Kesuma, putra bungsu mereka yang tumbuh menjadi anak gagah. Bertahun-tahun kemudian, Tuhan menagih janji mereka lantaran melihat pasangan ini seolah ingkar janji.

Malapetaka datang. Dewa yang marah membuat bumi gelap gulita. Pasangan itu teringat janji mereka. Keduanya menceritakan janji mereka itu kepada Kesuma. Kesuma bersedia berkorban untuk keselamatan negeri. Dunia tenang kembali. Masyarakat Tengger berkembang biak. Hingga sekarang, Suku Tengger tetap memegang keyakinan sebagai pemeluk Hindu. Tradisi upacara Yadnya Kasada terus dipertahankan sampai sekarang. 


Asal mula SUKU TENGGER diambil dari nama belakang RARA ANTENG dan JOKO SEGER. Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger ini kemudian menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau artinya “Penguasa Tengger yang Budiman”.
Sebelum Upacara Yadnya Kasada Bromo dilangsungkan, calon dukun dan tabib akan menyiapkan beberapa sesaji untuk dipersembahkan dengan cara melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Persembahan sesajen ini dilakukan beberapa hari sebelum upacara Yadnya Kasodo Bromo. Mereka juga harus melalui tes pembacaan mantra terlebih dahulu saat upacara Yadnya Kasada Bromo berlangsung sebelum dinyatakan lulus dan diangkat oleh tetua adat. Peran dukun atau tabib badi suku Tengger sangat kuat karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan masalah yang dialami oleh masyarakatnya,

Hasil gambar untuk upacara kasada bromoHasil gambar untuk upacara kasada bromo

Kemudian tepat pada malam ke-14 bulan Kasada, pada bulan Purnama, suku Tengger akan beramai-ramai membawa sesajen berupa hasil ternak dan pertanian ke Pura Luhur Poten bromo dan menunggu hingga tengah malam saat dukun ditasbihkan tetua adat. Berikutnya, sesajen yang disiapkan dibawa ke atas kawah Bromo untuk dilemparkan ke kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang. Bagi suku Tengger, sesaji yang dilembar ke Kawah Bromo tersebut sebagai bentuk kaul atau rasa syukur atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas pelemparan sesaji ini yang berada di kawah gunung bromo dapat Anda lihat sejak malam hingga siang hari saat hari menjelang upacara Yadnya Kasada Bromo.
Apabila Anda berminat menyaksikan Upacara Yadnya Kasada Bromo maka disarankan datang sebelum tengah malam karena ramainya persiapan para dukun dan masyarakat setempat, atau jika anda masih belum tau untuk hari dan kapan di adakannya Upacara Yadnya Kasada Bromo ini anda bisa langsung bertanya kepada kami di Wisata Bromo tempatnya kumpulan Paket Wisata Bromo atau Bromo Tour.
Terimakasih telah membaca artikel tentang Upacara Yadnya Kasada Bromo yang di gelar di Wisata Gunung Bromo, semoga bermanfa’at bagi kita semua.

Thursday, 11 June 2015

PANTAI TIGA WARNA MALANG





merupakan pantai yang kini sedang eksis di dunia para traveler maupun mereka yang senang berlibur ke daerah pesisir. Yap, sesuai dengan namanya Pantai 3 Warna ini memiliki keunikan di warna airnya yang berbeda beda dikarenakan kedalaman air laut. Pantai ini berada di Wilayah Rehabilitasi Dan Konservasi Mangrove, Terumbu Karang Serta Hutan Lindung Desa Tambakrejo (Daerah Konservasi Sendangbiru, Kabupaten Malang – Jawa Timur). Untuk menjaga kelestariannya, Pantai Tiga Warna dikelola oleh Bhakti Alam yang anggotanya berasal dari warga desa sekitar pantai.







Tahukah Anda, Malang punya pantai yang bisa disandingkan dengan pantai-pantai di Bali. Tepatnya di kawasan Malang bagian selatan, terdapat deratan pantai yang memanjakan mata. Seperti, Pantai Tiga Warna yang eksotis ini!.

Berlokasi di Desa Sendang Biru, Kecamatan Sitiarjo, Malang Selatan terdapat kawasan Pantai Clungup, Gatra serta Pantai Tiga Warna yang sangat wajib dikunjungi. Setelah  melewati perkampungan terakhir, kita akan disuguhi trek jalanan tanah kurang lebih 2 km sampai bertemu pos tiket masuk.

Kita dikenakan  biaya tiket tanda masuk pantai serta donasi untuk 1 pohon bakau. Karena pantai tersebut merupakan   kawasan  konservasi bakau dan terumbu karang,  jadi sebelum dan sesudah dari pantai pengunjung akan dilakukan pendataan barang apa saja yang dibawa masuk ke lokasi pantai dengan tujuan menjaga kelestarian pantai.

 
 

Dari pos tersebut masih diteruskan perjalanan kurang lebih 2 km, dengan menyusuri jalanan sempit, turun naik dan berupa tanah, sangat licin apabila musim hujan. Trek yang amazing, panorama yang indah, serta suara khas hewan-hewan hutan akan menemani sepanjang perjalanan.

Bukit-bukit indah serta jajaran pohon bakau menandai lokasi Pantai Clungup sudah dekat, sangat asri dan alami, dengan ombak yang cukup tenang. Hamparan pasir putih akan ditemui di pantai ini, serta di sisi kanan mata kita akan dimanjakan pemandangan hutan mangrove. Puas menikmati pantai clungup, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Gatra dengan melewati tegalan kurang lebih 3 km ke arah kiri.

Sangat menakjubkan  pemandangan di pantai ini, gugusan pulau karang hijau yang tak jauh dari bibir pantai, pasir putih yang kemilau, deburan ombak yang seirama dengan tiupan angin, birunya laut yang membentang hingga menuju cakrawala. Benar-benar indah!

Tidak cukup sampai di sini pengunjung bisa menyatu dengan alam, dengan menggunakan pemandu setempat langkahkan kaki menuju bukit-bukit sebelah kiri Pantai Gatra. Ya, kita akan mendapati Pantai Tiga Warna yang eksotis!

Air laut yang bergradasi, biru dan hijau serta pasir pantainya yang putih jadi alasan mengapa pantainya diberi nama seperti itu. Pengunjung dapat bersantai di pesisir pantai, foto-foto dan snorkeling dengan aman.

Selain airnya yang bersih dan keunikan warna air yang berbeda, para wisatawan Pantai Tiga Warna juga disuguhkan dengan keindahan terumbu karang yang dapat dinikmati sepuasnya selama berada disana. Disini pengunjung difasilitaskan sebuah peralatan Snorkling (kaca mata renang, rompi pelampung, dan selang untuk bernapas) hanya dengan biaya seharga Rp.15.000/orang. Bersebelahan dengan Pantai Sendang Biru, menjadikan Pantai Tiga Warna sebagai pelengkap tur liburan Anda jika berkunjung ke daerah Malang Selatan.  

Pantai 3 Warna Malang dapat diakses menggunakan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil. Namun untuk mobil diharuskan memarkirnya di bawah sebelum masuk ke kawasan Pantai Clungup, hal ini dikarenakan akses jalan yang belum memadai sehingga pihak pantai lebih mengutamakan keselamatan para wisatawan.

Karena sebagai kawasan konservasi, maka pantai ini diterapkan pembatasan jumlah pengunjung setiap harinya. Jangan lupa menikmati sensasi kemping, kita bisa mendirikan tenda di lokasi Pantai Gatra dan Clungup. Saatnya menyatu dengan alam.



Untuk menuju Pantai Tiga Warna, traveler menuju Sendangbiru tepatnya sebelum memasuki TPI Sendangbiru ada penunjuk jalan ke arah Pantai Clungup. Memang penanda jalan yang ada belum begitu memadai, hanya berupa plang besi kecil dan kayu yang dipilox tulisan “Pantai Clungup”. Dan penunjuk jalan tersebut membawa kami ke gang perkampungan penduduk.

trek perjalanannya perkampungan penduduk, Pantai Tiga Warna dapat dicapai setelah kita melewati Pantai Clungup dan Pantai Gatra. Kalau ditanya treknya, ya amazing. Jangan bayangkan jalanan beraspal ataupun minimal jalan batu seperti ke pantai Goa Cina. Yang ada, adalah jalanan tanah yang ketika tersiram air hujan berubah menjadi tanah berlumpur. Licin dan jalanan sempit hanya muat untuk satu motor. Jadi kita tidak bisa membawa mobil . Rimbunan kebun pisang di kanan kiri jalan menemani perjalanan. Sempat terseok – seok motor kami di jalanan yang licin. Jika kita memang belum pernah melewati jalanan itu termasuk membingungkan, karena beberapa kali ada persimpangan jalan. Kira – kira 2-3 km kemudian kita baru finish di pos utama pantai Clungup. Pos pantau pantai Clungup terbuat dari bale-bale bambu. Sederhana tapi penuh makna, karena seakan ingin menyatu dengan alam. Malam itu, kami disambut sekitar 8 bapak – bapak jagawana kawasan konservasi tersebut. Yang pertama kita lakukan ya pasti membayar tiket seharga Rp 6.000/orang plus parkir motor Rp 5.000/motor. Disarankan untuk para traveler yang berencana camp, menelpon pihak Bhakti Alam yaitu Pak Saptoyo 081233339889 untuk konfirmasi.

 pihak Bhakti Alam menyediakan penyewaan tenda. Cukup membayar Rp 25.000,-/ tenda (muat 5 orang) dan kita mendapatkan satu matras. Selain itu, kita juga diwajibkan membayar biaya sewa lahan Rp 25.000/tenda. Jadi total biaya Rp 50.000,-. Karena Pantai Tiga Warna termasuk dalam kawasan Bhakti Alam tidak diperbolehkan untuk mendirikan tenda menginap bagi para pengunjung. Traveler diperbolehkan camping di kawasan Pantai Clungup dan Pantai Gatra.

 yang lebih penting lagi, disini traveler harus mematuhi peraturan untuk ikut menjaga kelestarian kawasan konservasi mangrove dan terumbu karang. Untuk itu tiap pengunjung diwajibkan untuk melaporkan barang bawaannya. Berikut peraturan nomor 8 yang tertera di samping pos pantau “Barang yang dibawa masuk harus dibawa keluar, jika barang yang masuk tidak sesuai dengan barang yang dibawa keluar, akan dikenakan sanksi sebesar Rp 100.000/item limbah/barang yang hilang dari daftar checklist barang”. Nah karena peraturan ini tentu berdampak pada bersihnya kawasan pantai Clungup, Gatra dan Tiga Warna. Traveler yang ingin merasakan sensasi snorkeling di Malang, bisa mendapatkannya jika mengunjungi Pantai Tiga Warna. Untuk itu menuju lokasi Pantai Tiga Warna harus didampingi guide/pemandu, dengan biaya sebesar Rp 75.000/10 orang. Setelah memarkirkan kendaraan, lanjut perjalanan menuju Pantai Clungup dan kita memilih Pantai Gatra sebagai lokasi camp kita. Perjalanan kita pilih susur pantai yang saat itu sedang mulai pasang. Hati – hati ya karena batu karang cukup licin dan tajam, disarankan memakai  alas kaki yang nyaman dan aman seperti sandal gunung.





Monday, 2 March 2015

TIPS MENUJU KE PUNCAK B29 LUMAJANG DESA ARGOSARI




http://indahwisataindonesia.blogspot.com/

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, salah satu taman nasional di JawaTimur ini memiliki luas wilayah 50.276,3 ha. Berada di wilayah administratif Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang, merupakan salah satu destinasi wisata menarik karena wisatawan bisa melihat keindahan gunung Bromo dan Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Dari Semeru ini bisa disaksikan keindahan Pananjakan dan air terjun Madakaripura, konon tempat moksa patih Gajah Mada.

http://indahwisataindonesia.blogspot.com/

Tapi siapa yang mengenal B29?
B29 adalah kawasan tertinggi di kaldera Bromo dengan ketinggian 2900 Mdpl. B29 masih bagian TN Bromo Tengger Semeru, terletak di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Dengan ketinggian 2900 meter di atas permukaan laut puncak B29 lebih tinggi dari gunung Bromo yang mempunyai ketinggian 2392 Mdpl. Terletak di sisi tenggara gunung Bromo, pemandangan yang indah akan segera dirasakan sesampainya di sana.

http://indahwisataindonesia.blogspot.com/

Puncak B29 Lumajang Desa Argosari
Desa Argosari menyuguhkan wisata alam yang sangat indah. Perkebunan sayur mayur seperti bawang prei, kubis, kol , kentang, wortel, dan cabe membuat nuansa khas desa di pegunungan sagat khas. Terasering perkebunan yang tertata rapi dan indah mejadi daya tarik juga. Dari puncak B 29 lumajang terdapat dua pemandangan indah yaitu menuju wilayah perkebunan Argosari yang sejajar dengan pegunungan Mahameru (Gunung Semeru ) dan Kawasan wisata bromo yang meliputi Lautan pasir bromo dengan hamparan awan putih khas dari pemandangan bromo sunrise. Juga indahnya sunrise maupun sunset yang seulah berdiri di atas awan.

jangan lupa sampajhnya tetap di bawa turun


Untuk menuju ke Puncak B29 Argosari memang membutuhkan sedikit adrenalin . Rute jalan  menuju tempat wisata ini cukup berliku dan berkelok-kelok sepanjang lereng Gunung Semeru dari arah Kecamatan Senduro, sekitar 40 kilometer dari arah Kota Lumajang. Dari Kecamatan Senduro, ditempuh dengan rute nuansa pedesaan hingga tiba di Desa Argosari. Dari desa ini untuk ke puncak B-29 ditempuh melaui jalur beraspal yang sudah bagus.
 http://indahwisataindonesia.blogspot.com/

Rute dan Jalur menuju Puncak B29 Lumajang
Jika Anda dari arah Wisata Surabaya atau Wisata Malang bisa langung menuju Kabupaten Lumajang, Menuju Desa Senduro kemudian langsung melalui jalan desa menuju Desa Argosari. Dari desa ini dilanjutkan dengan tetap rute beraspal menuju Puncak B29 Lumajang Desa Argosari .
Bahkan ,kalau Anda suka beradventure dengan moto cross, rute menuju Puncak Bukit 29 Lumajang bisa di tempuh melalui Wisata Gunung Bromo. Tentu saja tidak hanya Bukit 29 saja yang bisa dinikmati, yaitu padang savanah, Pasir Berbisik , Bukit teletubies juga secara otomatis bisa di singgahi.





 jalan bercabang boleh kanan ato kiri




Jika ingin pergi ke sini, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi karena tak ada angkutan umum ke sana. Dari Kota Lumajang Anda bisa langsung ke kecamatan Senduro, setelah itu langsung ke Desa Argosari. Pastikan kendaraan yang dipakai dalam kondisi prima, karena sepanjang jalan akan menemui jalan terjal dan agak rusak. Sangat tak disarankan membawa sepeda motor matic karena sangat riskan sekali dengan jalanan yang menanjak. Lebih baik pakai sepeda motor bebek atau sepeda motor yang kuat untuk medan-medan yang terjal.

salah satu contoh jalan yang akan di lalui



Disarankan untuk yang membawa sepeda motor gunakanlah motor bebek atau motor besar, bukan berarti motor matik tidak bisa di gunakan, saya sendiri waktu kesana menggunakan motor matik, tapi motor matik hanya bisa sampai pos  atau di  pembelian tiket, apabila menggunakan mobil, harus di parkir di bawah, jauh sebelum pos, jadi disarankan untuk ngojek sampai kepuncak, karena bila berjalan kaki akan di tempuh 3-4 jam perjalanan. bila yang menyukai tantangan lebih bagus jalan kaki sambil menikmati indahnya panorama alam yang masi asri antara perpaduan gunung dan tanaman sayur mayur warga sekitar, bila beruntung anda akan di suguhkan dengan awan disekitar lereng bukit. 

perjalanan dari pos sendiri hanya ditempuh dengan jaklan kaki sekitar satu jam setengah. tidak disarankan naik ketika hujan turun, karena kondisi jalan yang belum di aspal jadi otomatis jalan akan sangat licin, tunggulah sampai hujan reda. untuk yang sudah lihai dalam berkendara kendaraan boleh naik sampai puncak. untuk air bawalah seperlunya saja, kira2 untuk perjalanan. karena ketika kita di perjalanan banyak penduduk yang berjualan di pinggir jalan bahkan di puncakpun banyak warung-warung yang berjualan. jadi jangan takut kekurangan air minum

 parkiran (pos tiket)
terlihat ada motor mrtik disana

Sesampainya di puncak B29, keindahan gunung Bromo dan Batok menjadi bonus pembayar lelah. Anda juga akan disuguhi pemandangan indah berada di atas awan. Tidak salah jika pemerintah Kabupaten Lumajang memberi nama wisata di atas awan. Hamparan luas lading sayuran dengan karakteristik pegunungan seolah bisa dijangkau tangan. Hawa dingin melengkapi pesona ini. Karenanya, jangan tinggalkan jaket Anda di rumah karena suhu di daerah sini lebih dingin dibanding daerah lain.

keindahan alamnya


Setelah menikmatiindahnya dari Puncak B-29 Desa Argosari, Kecamatan Senduro,  pengunjung juga bisa melanjutkan ke destinasi obyek wisata lainnya yang terdekat seprti air terjun, wisata pendakian Ranu Kumbolo  , Ranu Regulo dan Wisata Gunung Semeru dan tentu saja ke Wisata Gunung Bromo
Bagi yang suka wisata petualang, camping di Puncak B29 Lumajang Desa Argosari sangatlah menyenangkan, apalagi di kombinasikan dengan paket wisata Bromo maupun Paket Tour Bromo Ranu Kumbolo dan Semeru.