Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Wednesday, 8 July 2015

UPACARA NGABEN BALI

 Hasil gambar untuk upacara ngaben  di bali
Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali, Indonesia. Upacara adat Ngaben merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang. Dalam upacara ini, jenazah diletakkan dengan posisi seperti orang tidur. Keluarga yang ditinggalkan pun akan beranggapan bahwa orang yang meninggal tersebut sedang tertidur. Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi atau akan menemukan peristirahatan terakhir di Moksha yaitu suatu keadaan dimana jiwa telah bebas dari reinkarnasi dan roda kematian. Upacara ngaben ini juga menjadi simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.
Hasil gambar untuk upacara ngaben  di baliHasil gambar untuk upacara ngaben  di bali
Dalam ajaran agama Hindu, jasad manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Badan kasar dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Kelima unsur ini terddiri dari pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Lima unsur ini menyatu membentuk fisik dan kemudian digerakkan oleh roh. Jika seseorang meninggal, yang mati sebenarnya hanya jasad kasarnya saja sedangkan rohnya tidak. Oleh karena itu, untuk menyucikan roh tersebut, perlu dilakukan upacara Ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya.

Tentang asal usul kata Ngaben sendiri ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang berarti bekal. Ada yang berpendapat dari  kata ngabu yang berarti menjadi abu.  Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata Ngapen yakni penyucian dengan api. Dalam kepercayaan Hindu, dewa Brahwa atau dwa pencipta dikenal sebagai dewa api. Oleh karena itu, upacara ini juga bisa dianggap sebagai upaya untuk membakar kotoran yang berupa jasad kasar yang masih melekat pada roh dan mengembalikan roh pada Sang Pencipta.

Bagi masyrakat di Bali, Ngaben adalah momen bahagia karena dengan melaksanakan upacara ini, orang tua atau anak-anak telah melaksanakan kewajiban sebagai anggota keluarga. Oleh sebab itu, upacara ini selalu disambut dengan suka cita tanpa isak tangis. Mereka percaya bahwa isak tangis justru hanya menghambat perjalanan roh mencapai nirwana.Hari yang sesuai untuk melakukan upacara Ngaben biasanya didiskusikan dengan para tetua atau orang uang paham. Tubuh jenasah akan diletakkan di dalam sebuah peti. Peti ini diletakkan di dalam sebuah sarcophagus yang berbentuk lembu atau diletakkan di sebuah wadah berbentuk vihara. Wadah ini terbuat darI kertas dan kayu. Bentuk vihara atau lembu ini dibawa menuju ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi tersebut tidak berjalan pada satu jalan lurus karena bertujuan untuk menjauhkan roh jahat dari jenasah.

Puncak Upacara adat Ngaben adalah prosesi pembakaran keseluruhan struktur yaknik Lembu atau vihara tadi berserta dengan jenasah. Prosesi Ngaben biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Bagi jenasah yang masih memiliki kasta tinggi, ritual ini bisa dilakukan selama 3 hari. Namun, untuk keluarga yang kastanya rendah, jenasah harus dikubur terlebih dahulu baru kemudian dilakukan Ngaben.

Upacara Ngaben di Bali biasanya dilakukan secara besar-besaran seperti sebuah pesta dan memakan biaya yang banyak. Oleh sebab itu, tidak sedikit orang yang melakukan upacara Ngaben dalam selang waktu yang lama setelah kematian. Saat ini, masyarakat Hindu di Bali banyak yang melakukan upacara Ngaben secara massal untuk mengemat biaya. Jadi, jasad orang yang sudah meninggal dimakamkan untuk sementara waktu sambil menunggu biayanya mencukupi. Namun, bagi keluarga yang mampu, Upacara adat Ngaben bisa dilakukan secepatnya.

Ngaben merupakan salah satu upacara besar di Bali. Salah satu rangkaian upacara Pitra Yadnya ini merupakan upacara untuk orang yang sudah meninggal. Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama, sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya, dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Ngaben sendiri adalah peleburan dari ajaran Agama Hindu dengan adat kebudayaan di Bali.

Di setiap daerah di Bali adalah hal yang lazim jika urutan acara dalam tata cara pelaksanaan Ngaben akan berbeda walaupun esensi upacara tersebut sama. Ini berkaitan dengan kepercayaan adat Bali yang mengenal adanya Desa Kala Patra yang secara harfiah di terjmahkan menjadi tempat, waktu dan keadaan.

Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya.

Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Upacara Ngaben biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal, karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Mereka beranggapan bahwa, memang jenasah untuk sementara waktu tidak ada, tetapi akan menjalani reinkarnasi atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).

Seperti yang tertulis tentang pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh).

Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Jadi, Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.

Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal, ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu).
Dalam Hindu, diyakini bahwa Dewa Brahma, disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi, Ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api, sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atma/roh.

Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya, menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi, dan ini sangat tergantung dari karmaphala selama masih hidup.

Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segera. Untuk anggota kasta yang tinggi, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, maka hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian. Jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya baru akan dilakukan ritual Ngaben, secara bersama-sama dalam satu kampung.

Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.

Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta (Pedanda), setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga, dibantu oleh masyarakat mempersiapkan sarcophagus atau “bade dan lembu” atau Wadah berbentuk vihara atau padma, sebagai symbol rumah Tuhan. Bade dan Lembu yang disiapkan biasanya sangat megah, terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat yang akan dilaksanakan Ngaben.

Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya, sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali. Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya, juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah yang tidak diketemukan, kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar, atau seperti saat kasus bom Bali 1, dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan.
Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya, kemudian dibakar. Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. Ketika ada yang meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik untuk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.

Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), pada pagi hari ketika upacara ini akan dilaksanakan, maka pihak keluarga dan sanak saudara serta masyarakat akan berkumpul mempersiapkan upacara ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu atau orang yang dianggap paling tua di dalam masyarakat. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap, seperti layaknya orang yang masih hidup.
 Hasil gambar untuk upacara ngaben  di baliHasil gambar untuk upacara ngaben  di bali
Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh.

Sebelum acara puncak dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik. Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di “Bade” tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan, secara beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Bentuk lembu atau vihara ini, dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah.

Di depan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan maka “Bade” akan diputar sebanyak 3 kali.
Sesampainya di kuburan, biasanya dilakukan di kuburan desa setempat, upacara Ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat ke pemalungan (“lembu”), yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari tumpukan batang pohon pisang, yang telah disiapkan, yang sebelumnya diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci.

Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengann menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin.

Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.
 Hasil gambar untuk upacara ngaben  di baliHasil gambar untuk upacara ngaben  di bali
Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.

Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya yang meninggal.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia, berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.
Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.

UPACARA YADNYA KASADA BROMO

Mengenal Upacara Yadnya Kasada di Bromo  



Upacara Yadnya Kasada Bromo atau Hari raya besar Suku Tengger umat hindu di Wisata Gunung Bromo yang di sebut Kasodo. Pernah mendengar upacara yang satu ini Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo di wisata gunung Bromo yaitu sebuah Upacara sesembahan atau sesajen ini adalah untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur yang digelar setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu Tengger, Upacara adat ini digelar di Pura Luhur Poten, tepat di kaki Gunung Bromo, pada tengah malam hingga dini hari. Upacara adat suku Tengger ini bertujuan untuk mengangkat dukun atau tabib yang ada di setiap desa di sekitar Gunung Bromo.

 Hasil gambar untuk upacara kasada bromoHasil gambar untuk upacara kasada bromo

Dalam festival ini suku Tengger akan melemparkan sesajen berupa sayuran, ayam, dan bahkan uang ke kawah gunung tersebut.
Berbicara soal Gunung Bromo, Gunung Bromo merupakan bagian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Provinsi Jawa Timur, Indonesia ini adalah salah satu tujuan wisata tersohor tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Gunung Bromo memiliki keunikan panorama indah sekaligus mistis sehingga menyodorkan suasana berbeda dibandingkan gunung lainnya. Di sini terbantang keindahan lanskap pegunungan dengan asap yang membumbung dari kawahnya dan di bawahnya ada lautan pasir luas menggelilinginya, obyek yang akan di kunjungi pun beragam, ketika pagi akan menikmati wisata bromo matahari terbit atau Bromo Sunrise di Penanjakan 1 Gunung Bromo, kedua akan melihat langsung Kawah Gunung Bromo, menyelusuri Padang Savana Bromo dan terakhir menjelajahi indahnya Pasir Berbisik di wisata gunung Bromo.
Hasil gambar untuk upacara kasada bromo

Tujuan wisatawan sudah sangat jelas menikmati semua keindahan alam Bromo, tetapi hal yang unik pun yang belum kita tahu dan membuat kita penasaran salah satunya event tahunan yaitu Upacara besar Nyadnya Kasada atau Kasodo yang di adakan pada bulan Agustus-September pada bulan purnama.
Suku Tengger Bromo dikenal sangat berpegang teguh pada adat dan istiadat terutama pada Upacara Yadnya Kasada Bromo ini, dan mereka jadikan Hindu lama sebagai pedoman hidup mereka. Keberadaan suku ini juga sangat dihormati oleh penduduk sekitar termasuk menerapkan hidup yang sangat jujur dan tidak iri hati. kembali ke Sejarah Gunung Bromo tentang asal muasal Suku Tengger Bromo di ceritakan bahwa


Ritual ini sudah dilakukan beratus-ratus tahun. Suku Tengger adalah keturunan Rara Anteng (putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (putra Brahmana).  Sehingga nama Tengger merupakan nama penggabungan kedua tokoh ini. Pasangan Rara Anteng dan Jaka membangun pemukiman dan menguasai Tengger.
Sekian tahun menikah, pasangan ini merindukan anak. Keduanya memutuskan bertapa meminta Tuhan agar menganugerahkan anak. Keinginan mereka didengar Tuhan. Tiba-tiba terdengar  suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul. Hanya mereka disyaratkan untuk mengorbankan putra bungsu mereka ke kawah Gunung Bromo.

Mereka bersedia menerima syarat itu. Tuhan pun menganugerahkan 25 anak kepada pasangan ini. Pasangan ini pun menyayangi Kesuma, putra bungsu mereka yang tumbuh menjadi anak gagah. Bertahun-tahun kemudian, Tuhan menagih janji mereka lantaran melihat pasangan ini seolah ingkar janji.

Malapetaka datang. Dewa yang marah membuat bumi gelap gulita. Pasangan itu teringat janji mereka. Keduanya menceritakan janji mereka itu kepada Kesuma. Kesuma bersedia berkorban untuk keselamatan negeri. Dunia tenang kembali. Masyarakat Tengger berkembang biak. Hingga sekarang, Suku Tengger tetap memegang keyakinan sebagai pemeluk Hindu. Tradisi upacara Yadnya Kasada terus dipertahankan sampai sekarang. 


Asal mula SUKU TENGGER diambil dari nama belakang RARA ANTENG dan JOKO SEGER. Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger ini kemudian menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau artinya “Penguasa Tengger yang Budiman”.
Sebelum Upacara Yadnya Kasada Bromo dilangsungkan, calon dukun dan tabib akan menyiapkan beberapa sesaji untuk dipersembahkan dengan cara melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Persembahan sesajen ini dilakukan beberapa hari sebelum upacara Yadnya Kasodo Bromo. Mereka juga harus melalui tes pembacaan mantra terlebih dahulu saat upacara Yadnya Kasada Bromo berlangsung sebelum dinyatakan lulus dan diangkat oleh tetua adat. Peran dukun atau tabib badi suku Tengger sangat kuat karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan masalah yang dialami oleh masyarakatnya,

Hasil gambar untuk upacara kasada bromoHasil gambar untuk upacara kasada bromo

Kemudian tepat pada malam ke-14 bulan Kasada, pada bulan Purnama, suku Tengger akan beramai-ramai membawa sesajen berupa hasil ternak dan pertanian ke Pura Luhur Poten bromo dan menunggu hingga tengah malam saat dukun ditasbihkan tetua adat. Berikutnya, sesajen yang disiapkan dibawa ke atas kawah Bromo untuk dilemparkan ke kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang. Bagi suku Tengger, sesaji yang dilembar ke Kawah Bromo tersebut sebagai bentuk kaul atau rasa syukur atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas pelemparan sesaji ini yang berada di kawah gunung bromo dapat Anda lihat sejak malam hingga siang hari saat hari menjelang upacara Yadnya Kasada Bromo.
Apabila Anda berminat menyaksikan Upacara Yadnya Kasada Bromo maka disarankan datang sebelum tengah malam karena ramainya persiapan para dukun dan masyarakat setempat, atau jika anda masih belum tau untuk hari dan kapan di adakannya Upacara Yadnya Kasada Bromo ini anda bisa langsung bertanya kepada kami di Wisata Bromo tempatnya kumpulan Paket Wisata Bromo atau Bromo Tour.
Terimakasih telah membaca artikel tentang Upacara Yadnya Kasada Bromo yang di gelar di Wisata Gunung Bromo, semoga bermanfa’at bagi kita semua.

UPACARA ROMBU SOLO TORAJA

Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan anisme politeistik yang disebut aluk, atau “jalan” (kadang diterjemahkan sebagai “hukum”). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta.Alam semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah.Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo’ Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo’ Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.

Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman disebut to minaa (seorang pendeta aluk). Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan.Kedua ritual tersebut sama pentingnya.

tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata paling populer di Provinsi Sulawesi Selatan. Di sini Anda menikmati kebudayaan khas Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dengan budaya khas Austronesia asli. Cicipilah nuansa lain kebudayaan yang unik dan berbeda, mulai dari rumah adat Tongkonan, upacara pemakaman Rambu Solo, Pekuburan Gua Londa, Pekuburan Batu Lemo, atau Pekuburan Bayi Kambira.

Menurut mitos yang  diceritakan dari generasi ke generasi, nenek moyang asli orang Toraja turun langsung dari surga dengan cara menggunakan tangga, di mana tangga ini berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (satu-satunya Tuhan).

Nama Toraja pertama kali diberikan oleh Suku Bugis Sidenreng yang menyebut penduduk yang tinggal di daerah ini sebagai "Riaja" (orang yang mendiami daerah pegunungan). Sementara rakyat Luwu menyebut mereka, "Riajang" (orang-orang yang mendiami daerah barat).


http://indahwisataindonesia.blogspot.com/Upacara pemakaman Rambu Solo di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Versi lain mengatakan bahwa Toraja dari kata "Toraya" (Tau: orang, dan raya atau maraya: besar), gabungan dua kata ini memberi arti "orang-orang hebat" atau "manusia mulia". Berikutnya istilah yang lebih sering dipakai adalah sebutan Toraja, kata "tana" sendiri berarti daerah. Penduduk dan wilayah Toraja pun akhirnya dikenal dengan Tana Toraja.

Masyarakat Toraja menganut "aluk" atau adat yang merupakan kepercayaan, aturan, dan ritual tradisional ketat yang ditentukan oleh nenek moyangnya. Meskipun saat ini mayoritas masyarakat Toraja banyak yang memeluk agama Protestan atau Katolik tetapi tradisi-tradisi leluhur dan upacara ritual masih terus dipraktikkan.

Masyarakat Toraja membuat pemisahan yang jelas antara upacara dan ritual yang terkait dengan kehidupan dan kematian. Hal ini karena ritual-ritual tersebut terkait dengan musim tanam dan panen.

http://indahwisataindonesia.blogspot.com/ 
Upacara pemakaman Rambu Solo di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Masyarakat Toraja mengolah sawahnya dengan menanami padi jenis gogo yang tinggi batangnya. Di sepanjang jalan akan Anda temui padi dijemur dimana batangnya diikat dan ditumpuk ke atas. Padi dengan tangkainya tersebut disimpan di lumbung khusus yang dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan serta rahang kerbau di bagian sampingnya.


http://indahwisataindonesia.blogspot.com/  Hasil gambar untuk rambu solo toraja










Tana Toraja memiliki dua jenis upacara adat yang populer yaitu Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo adalah upacara pemakaman, sedangkan Rambu Tuka adalah upacara  atas rumah adat yang baru direnovasi.

Khusus Rambu Solo, masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan kepada orang-orang yang ditinggalkannya. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya.


http://indahwisataindonesia.blogspot.com/ 
Kerbau-kerbau yang dikorbankan pada upacara pemakaman Rambu Solo di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Upacara pemakaman Rambu Solo adalah rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan.

Puncak upacara Rambu Solo biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini. Kedatangan orang Toraja tersebut diikuti pula dengan kunjungan wisatawan mancanegara.

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana.

Bagi kalangan bangsawan yang meninggal maka mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu di antaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya. Upacara pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan. Kerbau pun langsung terkapar beberapa saat kemudian.

http://indahwisataindonesia.blogspot.com/ 
 Suku Toraja di Sulawesi Selatan.Masyarakat Toraja hidup dalam komunitas kecil di mana anak-anak yang sudah menikah meninggalkan orangtua mereka dan memulai hidup baru di tempat lain. Meski anak mengikuti garis keturunan ayah dan ibunya tetapi mereka semua merupakan satu keluarga besar yang tinggal di satu rumah leluhur (tongkonan).

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial Suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual Suku Toraja. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur

Monday, 10 November 2014

KYAI BONO KELING

KYAI BONO KELING


 
Kabupaten Banyumas, salah satu kabupaten di Jawa Tengah memiliki kekhasan
tersendiri. Disinilah terletak Desa Pekuncen, sebuah desa di lereng
perbukitan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Jatilawang.

Di Desa Pekuncen hadir komunitas pengikut ajaran Kyai Bono Keling. Makam
Kyai Bono Keling yang berada di Desa Pekuncen pun hingga kini sangat
dikeramatkan para penganutnya. Semua ritual, merujuk pada Sang Kyai.


Desa Pekuncen yang kami datangi ini berpenduduk sekitar 5 ribu jiwa.
Sebagian besar warganya hidup dari bertAni dan berkebun. Sawah bagi mereka
adalah sekolah atau tempat belajar hidup. Jadi tidak heran, 50 persen
penduduknya hanya tamat Sekolah Dasar. Bahkan 20 persennya masih buta
huruf. Soal religi, mayoritas menganut Islam kepercayaan, hasil ajaran
Kyai Bono Keling.

Kami menemui kepala desa setempat, Pak Darsum. Berbeda dengan bayangan
kami, mereka cukup terbuka memberi informasi. Tak lama lagi di Pekuncen
akan berlangsung sebuah ritual setiap bulan Syawal. Warga Pekuncen akan
mengadakan pembersihan makam Kyai Bono Keling. Dalam ritual ini, Pekuncen
akan didatangi sejumlah pengikut kepercayaan ajaran Kyai Bono Keling, yang
berdomisili di luar desa.

Hari ketika kami datang ternyata Desa Pekuncen tengah berduka. Salah
seorang warganya meninggal dunia. Hampir seluruh warga Pekuncen
berbondong-bondong datang melayat, sambil membawa beras atau makanan untuk
keluarga yang ditinggalkan.

Umumnya agama yang mereka anut adalah Islam. Namun Islam menurut mereka
ada dua yaitu Islam sholat dan Islam salat. Islam sholat adalah yang
melakukan peribadatan dengan sholat 5 waktu sedangkan Islam salat, tidak
melakukan sholat 5 waktu, akan tetapi berbuat baik dan memberi teladan
kepada semua orang, menghormati yang tua, dan memuja nenek moyang mereka
yaitu Kyai Bono Keling.

Uniknya, seluruh ajaran sang kyai tidak ada yang tertulis. Semuanya
disampaikan hanya melalui ucapan. Karena itu di Banyumas, ajaran yang
disampaikan Kyai Bono Keling terkenal dengan nama Turki atau Pituturing
Kaki yang artinya nasihat dari nenek moyang, yang diyakini mengandung
kebenaran, kerukunan dan membawa kebaikan bagi semua orang.

Salah satu ajarannya antara lain soal membawa bahan makanan pada keluarga
yang anggotanya meninggal. Sebagai imbalan, para pelayat diberi uang logam
sejumlah 500 rupiah, tanda terima kasih. Besarnya imbalan ini disesuaikan
dengan kemampuan. Para pelayat juga dilarang meninggalkan kediaman orang
yang meninggal dunia sebelum jenazah dimakamkan.

Tidak adanya kitab tertulis mengenai ajaran sang Kyai Bono Keling, membuat
posisi juru kunci jadi amat penting. Melalui dirinyalah, para pengikut
Bono Keling mendapat ajaran secara lisan. Dalam tugasnya ini, sang kyai
juru kunci dibantu sejumlah orang yang disebut Bedogol.

Kepada merekalah kami bertanya tentang siapa sesungguhnya Kyai Bono
Keling. Tapi ternyata dalam hal ini mereka sangat tertutup. Mereka seperti
enggan menjelaskan, siapa Bono Keling sebenarnya.

Yang mereka katakan hanyalah, Kyai Bono Keling dulunya seorang petani yang
berasal dari Desa Pasir di Purwokerto. Tidak ada lukisan atau apapun yang
bisa menggambarkan sosok sang kyai. Sosoknya terasa begitu dirahasiakan.
Bagi penganut ajarannya, tidak penting sosok sang kyai diketahui publik
luas. Ia cukup diketahui oleh keturunannya saja, sesuai dengan namanya
Bono Keling yang berarti tempat yang dirahasiakan.

Menjadi Anggotanya....

Bagi penganut Islam Kejawen di Desa Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah,
posisi kyai juru kunci adalah pemimpin umat dan adat. Saat ini kyai kunci
dijabat oleh Mejasari. Usianya sudah 82 tahun. Ia merupakan juru kunci
yang ke-12. Tidak ada batas waktu untuk jadi juru kunci. Bisa diganti jika
yang bersangkutan mengundurkan diri, duda atau meninggal dunia.

Tugas yang diemban Mejasari sebagai juru kunci adalah melayAni umat yang
datang dan melaksanakan ritual. Yang lebih penting lagi, memelihara makam
Kyai Bono Keling. Dalam melaksanakan tugasnya, kyai juru kunci dibantu
seorang wakil yang disebut pemanggul dan 5 orang asisten yang disebut
bedogol.

Walaupun ajaran Bono Keling sudah seperti mendarah daging bagi warga
Pekuncen, namun toh seseorang baru dipertanyakan arah kepercayaannya
ketika ia sudah akil balig dan beragama Islam. Untuk perempuan, 17 tahun,
pria, 12 tahun atau sudah disunat. Melebuh, demikianlah sebutannya bagi
orang yang akan masuk ke dalam ajaran kepercayaan Kyai Bono Keling.

Penganut Bono Keling tidak mengharuskan keturunannya punya kepercayaan
yang sama. Seperti pada keluarga Sumitro. Samini, anak perempuan Sumitro
kini sudah berumur 17 tahun. Saatnya ia menentukan sikap, apakah mau ikut
melebuh, yang berarti turut aliran kepercayaan Bono Keling, atau tidak.
Seandainya Samini tidak mau pun, tidak ada sanksi baginya. Tapi tentu saja
kesediaannya bergabung ini membuat orang tuanya bahagia.

Jika yang akan masuk jadi anggota Bono Keling, laki-laki, maka yang berhak
mensahkannya adalah bedogol. Tapi bila perempuan yang akan melebuh, maka
istri bedogollah yang mengangkatnya. Karena itu, selain juru kunci, para
asisten atau bedogol dan istri mereka juga harus menguasai
mantera-mantera.

Sayangnya, kami tidak boleh mengambil gambar, ketika mantera-mantera
diucap sang istri bedogol. Bagi mereka, mantra itu sangat sakral dan hanya
boleh diketahui umatnya. Sejak itulah Samini berhak mendapatkan semua
ajaran Kyai Bono Keling.

Para pengikut ajaran Bono Keling datang berjalan kaki dari Cilacap.
Sekitar 50 kilometer mereka tempuh, tanpa sekalipun berkendaraan.
Beriringan, mereka membawa bahan makanan yang akan dimasak ramai-ramai di
Pekuncen. Rombongan ini akan ikut ritual syawalan, atau mereka biasa
menyebutnya sebagai turunan. Ritual turunan di Pekuncen merupakan
kelanjutan dari tradisi nyadran yang dilakukan sebelum bulan puasa,
sebagai ucapan syukur dan memohon keselamatan.

Dan bagi para pengikut yang berdomisili di Cilacap, berjalan kaki seharian
Ini adalah syarat yang tak bisa ditawar, walau mereka tak tahu apa
alasannya.

Di Desa Kali Urip, perbatasan antara Banyumas dengan Cilacap, para pejalan
kaki dari Cilacap disambut perwakilan adat dari Pekuncen. Metuk,
demikianlah istilahnya. Semua itu dilakukan untuk menghormati tamu yang
datang. Semua barang bawaan, dibawa penjemput ke rumah kyai juru kunci.

Para tamu dari jauh ini dibawa ke balai adat untuk melakukan caos atau
sungkeman pada kyai juru kunci dan seluruh bedogol, didampingi aparat
desa. Para lelaki mengawali sungkeman, sementara kaum perempuan
belakangan. Selain untuk menghormati orang tua, caos atau sungkem
dilakukan juga untuk mendapat berkah dari Sang Pencipta melalui para kyai.

Malam Jumat Kliwon, semua perwakilan umat berkumpul di balai pasemuan atau
tempat musyawarah. Disinilah akan berlangsung neduh atau puji-pujian,
minta ijin kepada Kyai Bono Keling untuk merapikan lingkungan makam sang
kyai. Sekaligus meminta keselamatan dalam pelaksanaan syukuran besok.
Mantra ini diucapkan sebanyak 25 kali, dengan merujuk jumlah nabi dan
dilanjutkan 17 kali sesuai jumlah sholat 17 rakaat.

Berguling-guling.....

Pagi ini kaum mudanya terlihat banyak bergerak. Hari ini memang ritual
turunan dimulai, diawali dengan menyembelih hewan kurban. Air sungai yang
mengalir, membuat mereka tak perlu repot-repot mencuci. Nantinya
hewan-hewan ini dimasak bersama. Sementara itu, kyai juru kunci dengan
seluruh bedogol dan para tamu, menuju ke pemakaman Kyai Bono Keling.

Sebelum memasuki Panembahan Kyai Bono Keling, semua harus berwudhu dulu.
Tapi cara berwudhu ini sangat berbeda dengan ajaran Islam yang diturunkan
Nabi Muhammad. Mereka hanya kumur-kumur dan mengusap muka.

Selain Kyai Bono Keling, tempat ini juga jadi peristirahatan terakhir para
kyai juru kunci terdahulu dan sesepuh adat. Jumlahnya ada sekitar 20-an.
Ritual turunan ini bisa dibilang semacam pembersihan makam. Sisa-sisa
pembakaran kemenyan, yang menumpuk, dibuang.

Selain membersihkan kompleks makam, pagar bambu juga akan dibuat. Tape
sebelumnya, para bedogol harus minta ijin dulu pada makam Eyang Bagus,
yang semasa hidupnya orang kepercayaan Kyai Bono Keling. Pembuatan pagar
bambu ini hanya dilakukan setahun sekali pada tradisi turunan. Sama
seperti acara memasak, dalam pembuatan pagar bambu ini juga semua aktif
bekerja.

Barulah setelah semua pagar selesai diganti, kini warga bisa sungkeman ke
makam Kyai Bono Keling. Sungkeman harus diawali kaum perempuan, kemudian
diikuti para lelaki. Perempuan dipimpin Nyai Bedogol yang dituakan,
sedangkan kaum prianya dipimpin kyai juru kunci. Saat inilah apa saja
keinginan dan harapan umat kejawen Bono Keling bisa disampaikan di tempat
ini.

Saat kami di sana, memang banyak yang datang untuk menunaikan nadzar
mereka yang terkabul, saat mereka memohon sesuatu di sini sebelumnya.
Salah satunya, sumiati. Ia datang bersama anaknya yang dulu sering
sakit-sakitan. Tapi sekarang sudah sembuh.
Hasil gambar untuk bonokelingHasil gambar untuk bonokelingHasil gambar untuk bonokelingHasil gambar untuk bonokeling
Pemerintah daerah setempat pernah berniat menjadikan kawasan Pekuncen
sebagai daerah wisata. Namun para pemimpin adat menolaknya. Mereka
khawatir, umat kejawen di Pekuncen akan terlena dengan kemewahan, padahal
tradisi leluhur mereka melarangnya.

Mereka juga tak hirau dengan anggapan orang terhadap kepercayaan yang
mereka anut. Bagi umat Bono Keling, kesederhanaan, saling menghormati
sesama, patuh pada pemimpin dan hormat pada yang lebih tua serta
mengedepankan kebersamaan dan gotong royong, sudah cukup untuk menunjukkan
hidup mereka punya makna.