Showing posts with label Profil. Show all posts
Showing posts with label Profil. Show all posts

Wednesday, 12 November 2014

Profil Muhammad Jusuf Kalla




Nama Lengkap : Muhammad Jusuf Kalla
Agama : Islam
Tempat Lahir : Watampone, Sulawesi Utara
Tanggal Lahir : Jumat, 15 Mei 1942
Zodiac : Taurus
Hobby : Membaca |Menulis
Warga Negara : Indonesia

BIOGRAFI

Jusuf Kalla lahir di Watampone, 15 Mei 1942 merupakan anak kedua dari 17 bersaudara. Semasa muda, Kalla banyak menghabiskan waktu untuk berorganisasi kepemudaan. Pengalaman berkecimpung dengan organisasi berhasil mengantarkan Kalla untuk menjadi orang kedua di Indonesia pada tahun 2004-2009.

Awal nama Kalla dikenal pada tahun 1968, saat dirinya menjadi CEO NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinan Kalla, perusahaan NV Hadji Kalla berkembang kian pesat. Dari semula hanya sekedar bisnis ekspor-impor menjadi meluas ke bidang perhotelan, konstruksi penjualan kendaraan, kelapa sawit, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, dan telekomunikasi.
Karir politiknya bermula saat dirinya menjabat sebagai ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Sulawesi Selatan pada tahun 1960-1964. Berlanjut menjadi ketua HMI cabang Makassar pada tahun 1965-1966. Tak puas sampai di sana, pada tahun 1967-1969 Kalla menjadi ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanudin dilanjutkan sebagai ketua Dewan Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tahun 1967-1969.

Bakat dagang yang diturunkan oleh sang ayah rupanya tak menguap sia-sia. Sebelum terjun di dunia politik, Kalla sempat menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda). Anak dari pasangan H. Kalla dan Athirrah ini dulunya dikenal sebagai pengusaha muda dari perusahaan milik keluarga bendera Kalla Group.

Pada tahun 1965, setelah pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), Kalla terpilih menjadi ketua Pemuda Sekber Golkar Sulawesi Selatan dan Tenggara (1965-1968). Di tahun yang sama, saat Kalla tengah menyelesaikan tugas akhir, dirinya terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan periode 1965-1968. Karir politik Kalla seketika melesat saat dirinya terpilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1982-1987 mewakili Golkar dan pada tahun 1997-1999 mewakili daerah.

Sebelum terpilih menjadi ketua umum partai Golkar pada tahun 2004, Kalla sempat terpilih menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid selama enam bulan (1999-2000).  Pada masa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, Kalla kembali diangkat menjadi menteri. Kali ini sebagai Menteri Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia (Menko Kesra), di tengah jalan Kalla mengundurkan diri karena berniat maju mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kemenangan telak membuat pasangan SBY-JK melenggang menuju istana negara untuk disahkan sebagai presiden dan wakil presiden periode 2004-2009. Dengan terpilihnya presiden dan wakil presiden baru tersebut merupakan pasangan hasil pemilihan pertama langsung dari rakyat Indonesia.
Selepas jabatan sebagai wakil presiden pada tahun 2009, suami dari Mufidah Jusuf dan ayah dari lima orang anak serta sembilan cucu ini menjabat sebagai ketua Palang Merah Indonesia periode 2009-2014.

Pada bulan September 2011, Kalla mendapatkan gelar Doctoral Causa keempatnya dari Universitas Hasanudin Makasar bidang perekonomian dan politik. Saat ditanya komentarnya, dirinya berpesan bahwa, jangan pernah memberikan jualan politik yang berisi janji-janji, tetapi bagaimana masyarakat adil dan sejahtera terwujud. Pemimpin yang membina kemakmuran tanpa  pemerataan adalah masalah besar. Keadilan boleh susah, tetapi harus susah bersama. Maju dan sejahtera pun harus bersama.

Selain itu, pada Desember 2011 Kalla berhasil mendapatkan penghargaan BudAi (Budaya Akademik Islami) dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang dan Penghargaan Tokoh Perdamaian dalam Forum Pemuda Dunia untuk Perdamaian di Maluku, Ambon, 2011.

Penghargaan lain diberikan kepada Kalla yakni penghargaan Dwidjosowojo Award dari Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 pada bulan Januari 2012 dan penghargaan The Most Inspiring Person pada bulan dan tahun yang sama disematkan atas prestasi yang telah diukir. Penghargaan tersebut diberikan oleh Men's Obsession, majalah prestasi dan gaya hidup.

Kini, di tengah kesibukannya sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia, Kalla masih menyempatkan waktu untuk bermain dengan cucu-cucu kesayangannya. Dia juga terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) dalam Muktamar VI DMI untuk periode 2012-2017.

Pada tanggal 19 Mei 2014, Kalla resmi menjadi pendamping Jokowi dan maju sebagai calon wakil presiden Indonesia periode 2014-2019. Pasangan Jokowi-JK ini akan melawan pasangan Prabowo-Hatta pada pemilu presiden tahun 2014 yang dilaksanakan 9 Juli 2014.

PENDIDIKAN
  • Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967.
  • The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977)
KARIR
  • Ketua Umum Palang Merah indonesia, 2009-2014
  • Wakil Presiden Republik Indonesia, 2004-2009 
  • Ketua Umum DPP Partai Golkar, 2004-2009
  • Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat, 2000–sekarang
  • Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2001-2004
  • Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia, 1999-2000
  • Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia, 1997-2002
  • Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International Organisasi, 1995 – 2001 
  • Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa, 1993-2001
  • Ketua IKA-UNHAS, 1992–sekarang
  • Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama, 1988-2001
  • Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama, 1988-2001
  • Wakil Ketua ISEI Pusat, 1987-2000
  • Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan, 1985–1997
  • Ketua Umum ISEI Sulawesi Selatan, 1985-1995
  • Anggota MPR-RI, 1982–1999
  • Direktur Utama PT. Bumi Karsa, 1969-2001
  • CEO NV Hadji Kalla, 1968-2001
  • Anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Sekber Golkar, 1965-1968
PENGHARGAAN
  • Doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, Makassar
  • Doktor HC dibidang perdamaian dari Universitas Syah Kuala Aceh pada 12 September 2011
  • Doktor HC dibidang pemikiran ekonomi dan bisnis dari Universitas Brawijaya Malang pada 8 Oktober 2011
  • Doktor HC dibidang kepemimpinan dari Universitas Indonesia pada 9 Februari 2013
  • Penghargaan BudAi (Budaya Akademik Islami) dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang
  • Penghargaan Tokoh Perdamaian dalam Forum Pemuda Dunia untuk Perdamaian di Maluku, Ambon, 2011
  • Penghargaan Dwidjosowojo Award dari Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera
  • The Most Inspiring Person

PROFIL JOKOWI


Nama Lengkap : Ir. H. Joko Widodo

Nama Alias : Jokowi

Agama : Islam

Tempat Lahir : Surakarta, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Rabu, 21 Juni 1961

Zodiac : Gemini

Hobby : Membaca | Traveling

Kebangsaan : Indonesia

Partai politik : Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

Istri : Ny. Hj. Iriana Joko Widodo

Anak : Gibran Rakabuming Raka - Kahiyang Ayu - Kaesang Pangarep

Alma mater : Universitas Gadjah Mada

Pekerjaan : Pengusaha

Akun Twitter : @jokowi_do2

Email : jokowi@indo.net.id


   BIOGRAFI LENGKAP JOKOWI   

Mendengar nama Joko Widodo, tentu Anda pasti ingat dengan seorang gubernur yang suka blusukan. Sekarang ini nama Joko Widodo menjadi sangat terkenal dengan banyaknya para pakar yang menyebutkan jika dia adalah salah satu calon presiden yang paling potensial. Bahkan, banyak orang yang memprediksi jika dia adalah calon yang paling mungkin menang dalam pemilu tahun 2014. Dalam biografi Joko Widodo disebutkan jika dia lahir pada tanggal 21 Juni 1961 di kota Solo. Dia berasal dari keluarga yang cukup sederhana. Akan tetapi dengan kerja keras, membuat pria ini bisa sukses.

Dalam biografi Joko Widodo dikatakan jika menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota Solo. Dan setelah itu pada pendidikan tinggi, Jokowi memilih untuk belajar di UGM. Pada saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi memang tidak ada prestasi yang menonjol yang dilakukan oleh Jokowi. Setelah selesai kuliah, pria ini memilih untuk bekerja pada sebuah perusahaan. Akan tetapi dia tidak bertahan lama dan memilih untuk meneruskan usaha mebel yang dimiliki oleh keluarga. Dalam waktu yang cepat, usaha mebel yang dilakukan berhasil mendapatkan banyak keuntungan.


jokowi foto
Pada tahun 2005 Jokowi terpilih menjadi walikota Solo. Ada banyak sekali prestasi yang sudah dilakukan pria ini di kota Solo. Karena melihat prestasi Jokowi yang bagus di kota Solo, pada tahun 2012 dia dicalonkan menjadi gubernur Jakarta. Dalam biografi Joko Widodo disebutkan, untuk menjadi gubernur Jakarta, Jokowi harus menghadapi perlawanan yang sengit dari lawan politiknya. Dengan kerja keras yang dilakukan, akhirnya Jokowi bisa menang dalam pilkada Jakarta.

Setelah menjadi gubernur Jakarta, tentu membuat pria ini semakin sibuk. Banyak sekali aktifitas yang harus dia lakukan. Tidak sedikit pula media yang membuat berita khusus akan Jokowi. Dengan popularitas yang semakin meningkat ini sudah pasti membuat banyak orang yang ingin Jokowi maju sebagai presiden. Pada tahun ini Jokowi resmi menjadi calon presiden dari partai PDI-P. Dengan maju sebagai calon presiden, pria ini menjadi semakin sibuk dan banyak musuh khususnya dalam dunia politik.

Kutipan Jokowi
Kutipan Joko Widodo
Tanggal 20 oktober 2014, sosok wong cilik yang dikenal dengan gaya blusukannya ini secara resmi di lantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7. Hari yang begitu bersejarah untuk bangsa Indonesia dimana banyaknya masyarakat yang ikut merayakan pengangkatan Presiden ketuujuh ini. Tidak hanya dalam kalangan masyarakat biasa, beberapa artis pun ikut merayakan dengan menggelar acara konser salam 3 jari di Monas, Jakarta. Saat ini masyarakat menanti kinerja sosok Presiden RI ke-7 ini hingga tahun 2019. Semoga dengan membaca biografi Joko Widodo ini bisa menambah wawasan Anda

   PENDIDIKAN JOKOWI   

  • SMP Negeri 1 Surakarta
  • SMA Negeri 6 Surakarta
  • Universitas Gajah Mada (UGM) Fakultas Kehutanan 

   KARIR JOKOWI   

  • Walikota Surakarta (2005-2012)
  • Gubernur Jakarta (2012-2017)
  • Pengusaha mebel dan pertamanan

   PENGHARGAAN JOKOWI   

  • Bintang Jasa Utama - Presiden Republik Indonesia
  • Piala Citra Bhakti Abdi Negara (2008-2009-2010) - Presiden Republik Indonesia
  • Agent of change Kemandirian - Dompet Dhuafa
  • Democracy Award: Manusia Bintang - RMOL
  • Decade Award: Rising Leader - Men's Obsession
  • E-government - Kemkominfo
  • Adiupaya Puritama - Kemenpera
  • Best City Award - Delgosea
  • Pengendali inflasi - Bank Indonesia
  • Tata ruang kedua terbaik se-Indonesia - Kementrian PU
  • Top 50 Leaders dari Fortune
  • Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan - Kemennaker
  • Bung Hatta Anti Corruption Award - Meutia Hatta
  • Anti Gratifikasi - KPK
  • Program Perlindungan Anak - UNICEF Tahun 2006
  • Walikota No.3 Terbaik Dunia - The City Mayors Foundation
  • Social Media Award - Majalah Marketing & Frontier Consulting Group
  • 10 Tokoh Pilihan Tahun 2008 - Tempo
  • Tokoh Pluralis Tahun 2013 - dari Lembaga Pemilih Indonesia
  • Tokoh Seputar Indonesia Tahun 2013 - Anugerah Seputar Indonesia
  • Good Governance Award (20 September 2012) - Soegeng Soerjadi
  • Pencapaian target MDGs Untuk program KJP dan KJS - Bappenas
  • Pangripta Nusantara Utama - Bappenas
  • Nominasi World Mayor Tahun 2012

Monday, 10 November 2014

KYAI BONO KELING

KYAI BONO KELING


 
Kabupaten Banyumas, salah satu kabupaten di Jawa Tengah memiliki kekhasan
tersendiri. Disinilah terletak Desa Pekuncen, sebuah desa di lereng
perbukitan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Jatilawang.

Di Desa Pekuncen hadir komunitas pengikut ajaran Kyai Bono Keling. Makam
Kyai Bono Keling yang berada di Desa Pekuncen pun hingga kini sangat
dikeramatkan para penganutnya. Semua ritual, merujuk pada Sang Kyai.


Desa Pekuncen yang kami datangi ini berpenduduk sekitar 5 ribu jiwa.
Sebagian besar warganya hidup dari bertAni dan berkebun. Sawah bagi mereka
adalah sekolah atau tempat belajar hidup. Jadi tidak heran, 50 persen
penduduknya hanya tamat Sekolah Dasar. Bahkan 20 persennya masih buta
huruf. Soal religi, mayoritas menganut Islam kepercayaan, hasil ajaran
Kyai Bono Keling.

Kami menemui kepala desa setempat, Pak Darsum. Berbeda dengan bayangan
kami, mereka cukup terbuka memberi informasi. Tak lama lagi di Pekuncen
akan berlangsung sebuah ritual setiap bulan Syawal. Warga Pekuncen akan
mengadakan pembersihan makam Kyai Bono Keling. Dalam ritual ini, Pekuncen
akan didatangi sejumlah pengikut kepercayaan ajaran Kyai Bono Keling, yang
berdomisili di luar desa.

Hari ketika kami datang ternyata Desa Pekuncen tengah berduka. Salah
seorang warganya meninggal dunia. Hampir seluruh warga Pekuncen
berbondong-bondong datang melayat, sambil membawa beras atau makanan untuk
keluarga yang ditinggalkan.

Umumnya agama yang mereka anut adalah Islam. Namun Islam menurut mereka
ada dua yaitu Islam sholat dan Islam salat. Islam sholat adalah yang
melakukan peribadatan dengan sholat 5 waktu sedangkan Islam salat, tidak
melakukan sholat 5 waktu, akan tetapi berbuat baik dan memberi teladan
kepada semua orang, menghormati yang tua, dan memuja nenek moyang mereka
yaitu Kyai Bono Keling.

Uniknya, seluruh ajaran sang kyai tidak ada yang tertulis. Semuanya
disampaikan hanya melalui ucapan. Karena itu di Banyumas, ajaran yang
disampaikan Kyai Bono Keling terkenal dengan nama Turki atau Pituturing
Kaki yang artinya nasihat dari nenek moyang, yang diyakini mengandung
kebenaran, kerukunan dan membawa kebaikan bagi semua orang.

Salah satu ajarannya antara lain soal membawa bahan makanan pada keluarga
yang anggotanya meninggal. Sebagai imbalan, para pelayat diberi uang logam
sejumlah 500 rupiah, tanda terima kasih. Besarnya imbalan ini disesuaikan
dengan kemampuan. Para pelayat juga dilarang meninggalkan kediaman orang
yang meninggal dunia sebelum jenazah dimakamkan.

Tidak adanya kitab tertulis mengenai ajaran sang Kyai Bono Keling, membuat
posisi juru kunci jadi amat penting. Melalui dirinyalah, para pengikut
Bono Keling mendapat ajaran secara lisan. Dalam tugasnya ini, sang kyai
juru kunci dibantu sejumlah orang yang disebut Bedogol.

Kepada merekalah kami bertanya tentang siapa sesungguhnya Kyai Bono
Keling. Tapi ternyata dalam hal ini mereka sangat tertutup. Mereka seperti
enggan menjelaskan, siapa Bono Keling sebenarnya.

Yang mereka katakan hanyalah, Kyai Bono Keling dulunya seorang petani yang
berasal dari Desa Pasir di Purwokerto. Tidak ada lukisan atau apapun yang
bisa menggambarkan sosok sang kyai. Sosoknya terasa begitu dirahasiakan.
Bagi penganut ajarannya, tidak penting sosok sang kyai diketahui publik
luas. Ia cukup diketahui oleh keturunannya saja, sesuai dengan namanya
Bono Keling yang berarti tempat yang dirahasiakan.

Menjadi Anggotanya....

Bagi penganut Islam Kejawen di Desa Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah,
posisi kyai juru kunci adalah pemimpin umat dan adat. Saat ini kyai kunci
dijabat oleh Mejasari. Usianya sudah 82 tahun. Ia merupakan juru kunci
yang ke-12. Tidak ada batas waktu untuk jadi juru kunci. Bisa diganti jika
yang bersangkutan mengundurkan diri, duda atau meninggal dunia.

Tugas yang diemban Mejasari sebagai juru kunci adalah melayAni umat yang
datang dan melaksanakan ritual. Yang lebih penting lagi, memelihara makam
Kyai Bono Keling. Dalam melaksanakan tugasnya, kyai juru kunci dibantu
seorang wakil yang disebut pemanggul dan 5 orang asisten yang disebut
bedogol.

Walaupun ajaran Bono Keling sudah seperti mendarah daging bagi warga
Pekuncen, namun toh seseorang baru dipertanyakan arah kepercayaannya
ketika ia sudah akil balig dan beragama Islam. Untuk perempuan, 17 tahun,
pria, 12 tahun atau sudah disunat. Melebuh, demikianlah sebutannya bagi
orang yang akan masuk ke dalam ajaran kepercayaan Kyai Bono Keling.

Penganut Bono Keling tidak mengharuskan keturunannya punya kepercayaan
yang sama. Seperti pada keluarga Sumitro. Samini, anak perempuan Sumitro
kini sudah berumur 17 tahun. Saatnya ia menentukan sikap, apakah mau ikut
melebuh, yang berarti turut aliran kepercayaan Bono Keling, atau tidak.
Seandainya Samini tidak mau pun, tidak ada sanksi baginya. Tapi tentu saja
kesediaannya bergabung ini membuat orang tuanya bahagia.

Jika yang akan masuk jadi anggota Bono Keling, laki-laki, maka yang berhak
mensahkannya adalah bedogol. Tapi bila perempuan yang akan melebuh, maka
istri bedogollah yang mengangkatnya. Karena itu, selain juru kunci, para
asisten atau bedogol dan istri mereka juga harus menguasai
mantera-mantera.

Sayangnya, kami tidak boleh mengambil gambar, ketika mantera-mantera
diucap sang istri bedogol. Bagi mereka, mantra itu sangat sakral dan hanya
boleh diketahui umatnya. Sejak itulah Samini berhak mendapatkan semua
ajaran Kyai Bono Keling.

Para pengikut ajaran Bono Keling datang berjalan kaki dari Cilacap.
Sekitar 50 kilometer mereka tempuh, tanpa sekalipun berkendaraan.
Beriringan, mereka membawa bahan makanan yang akan dimasak ramai-ramai di
Pekuncen. Rombongan ini akan ikut ritual syawalan, atau mereka biasa
menyebutnya sebagai turunan. Ritual turunan di Pekuncen merupakan
kelanjutan dari tradisi nyadran yang dilakukan sebelum bulan puasa,
sebagai ucapan syukur dan memohon keselamatan.

Dan bagi para pengikut yang berdomisili di Cilacap, berjalan kaki seharian
Ini adalah syarat yang tak bisa ditawar, walau mereka tak tahu apa
alasannya.

Di Desa Kali Urip, perbatasan antara Banyumas dengan Cilacap, para pejalan
kaki dari Cilacap disambut perwakilan adat dari Pekuncen. Metuk,
demikianlah istilahnya. Semua itu dilakukan untuk menghormati tamu yang
datang. Semua barang bawaan, dibawa penjemput ke rumah kyai juru kunci.

Para tamu dari jauh ini dibawa ke balai adat untuk melakukan caos atau
sungkeman pada kyai juru kunci dan seluruh bedogol, didampingi aparat
desa. Para lelaki mengawali sungkeman, sementara kaum perempuan
belakangan. Selain untuk menghormati orang tua, caos atau sungkem
dilakukan juga untuk mendapat berkah dari Sang Pencipta melalui para kyai.

Malam Jumat Kliwon, semua perwakilan umat berkumpul di balai pasemuan atau
tempat musyawarah. Disinilah akan berlangsung neduh atau puji-pujian,
minta ijin kepada Kyai Bono Keling untuk merapikan lingkungan makam sang
kyai. Sekaligus meminta keselamatan dalam pelaksanaan syukuran besok.
Mantra ini diucapkan sebanyak 25 kali, dengan merujuk jumlah nabi dan
dilanjutkan 17 kali sesuai jumlah sholat 17 rakaat.

Berguling-guling.....

Pagi ini kaum mudanya terlihat banyak bergerak. Hari ini memang ritual
turunan dimulai, diawali dengan menyembelih hewan kurban. Air sungai yang
mengalir, membuat mereka tak perlu repot-repot mencuci. Nantinya
hewan-hewan ini dimasak bersama. Sementara itu, kyai juru kunci dengan
seluruh bedogol dan para tamu, menuju ke pemakaman Kyai Bono Keling.

Sebelum memasuki Panembahan Kyai Bono Keling, semua harus berwudhu dulu.
Tapi cara berwudhu ini sangat berbeda dengan ajaran Islam yang diturunkan
Nabi Muhammad. Mereka hanya kumur-kumur dan mengusap muka.

Selain Kyai Bono Keling, tempat ini juga jadi peristirahatan terakhir para
kyai juru kunci terdahulu dan sesepuh adat. Jumlahnya ada sekitar 20-an.
Ritual turunan ini bisa dibilang semacam pembersihan makam. Sisa-sisa
pembakaran kemenyan, yang menumpuk, dibuang.

Selain membersihkan kompleks makam, pagar bambu juga akan dibuat. Tape
sebelumnya, para bedogol harus minta ijin dulu pada makam Eyang Bagus,
yang semasa hidupnya orang kepercayaan Kyai Bono Keling. Pembuatan pagar
bambu ini hanya dilakukan setahun sekali pada tradisi turunan. Sama
seperti acara memasak, dalam pembuatan pagar bambu ini juga semua aktif
bekerja.

Barulah setelah semua pagar selesai diganti, kini warga bisa sungkeman ke
makam Kyai Bono Keling. Sungkeman harus diawali kaum perempuan, kemudian
diikuti para lelaki. Perempuan dipimpin Nyai Bedogol yang dituakan,
sedangkan kaum prianya dipimpin kyai juru kunci. Saat inilah apa saja
keinginan dan harapan umat kejawen Bono Keling bisa disampaikan di tempat
ini.

Saat kami di sana, memang banyak yang datang untuk menunaikan nadzar
mereka yang terkabul, saat mereka memohon sesuatu di sini sebelumnya.
Salah satunya, sumiati. Ia datang bersama anaknya yang dulu sering
sakit-sakitan. Tapi sekarang sudah sembuh.
Hasil gambar untuk bonokelingHasil gambar untuk bonokelingHasil gambar untuk bonokelingHasil gambar untuk bonokeling
Pemerintah daerah setempat pernah berniat menjadikan kawasan Pekuncen
sebagai daerah wisata. Namun para pemimpin adat menolaknya. Mereka
khawatir, umat kejawen di Pekuncen akan terlena dengan kemewahan, padahal
tradisi leluhur mereka melarangnya.

Mereka juga tak hirau dengan anggapan orang terhadap kepercayaan yang
mereka anut. Bagi umat Bono Keling, kesederhanaan, saling menghormati
sesama, patuh pada pemimpin dan hormat pada yang lebih tua serta
mengedepankan kebersamaan dan gotong royong, sudah cukup untuk menunjukkan
hidup mereka punya makna.