Showing posts with label Museum. Show all posts
Showing posts with label Museum. Show all posts

Friday, 12 August 2016

MUSEUM KAPAL PLTD APUNG BANDA ACEH

MUSEUM KAPAL PLTD APUNG

Hasil gambar untuk pltd apung di aceh


Banda Aceh - Dahsyatnya Tsunami Aceh tahun 2004 menghanyutkan sebuah kapal hingga ke tengah Kota Banda Aceh. Kini kapal itu menjadi monumen sekaligus museum untuk wisatawan.

Bumi Serambi Makkah sempat berduka ketika diterjang bencana tsunami 12 tahun silam. Salah satu bukti kedahsyatannya adalah Kapal PLTD Apung seberat 2.600 ton yang terseret gelombang hingga ke tengah kota Banda Aceh.

kini Kapal PLTD Apung itu teleh menjelma menjadi monumen sejarah hingga museum yang dapat dikunjungi oleh traveler. Lokasinya sama dengan saat kejadian terjadi, yakni di perkampungan Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh.

Saat ini, area sekitar PLTD Apung telah dibeli oleh pemerintah untuk ditata ulang menjadi wahana wisata edukasi. Untuk mengenang korban jiwa yang jatuh akibat tsunami, dibangun monumen peringatan. Pada monumen itu, tertera tanggal dan waktu kejadian dari musibah yang juga menimpa beberapa negara selain Indonesia.


Saat ini di sekitar PLTD Apung tersebut telah dibangun tangga yang mengelilinginya agar para wisatawan yang berkunjung dapat melihat setiap sisinya. Pengunjung pun diperkenankan untuk masuk ke dalam PLTD Apung ini. Selain itu, di dekat PLTD Apung ini juga dibangun sebuah ruangan yang menampilkan beberapa foto-foto pasca Bencana Tsunami Aceh tahun 2004 yang lalu. Sangat disarankan untuk melihat foto-foto ini, namun bagi anda  yang tidak kuat melihat , kami sarankan berpikir ulang.Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal ini, pengunjung juga dapat melihat rangkaian pegunungan Bukit Barisan



Meski tsunami, bencana dahsyat yang melanda Aceh 26 Desember 2014, telah berlalu sepuluh tahun lalu, namun bukti kejadian luar biasa tersebut masih bisa kita saksikan di Kapal PLTD Apung yang kini menjadi objek wisata sejarah, Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel atau biasa disebut PLDT Apung ini,

Hasil gambar untuk pltd apung di aceh

awalnya bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. Akan tetapi, setelah dihantam tsunami, kapal milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu terseret sejauh lima kilometer dan terdampar di tengah permukiman warga di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh.

Kapal dengan berat 2.600 ton, panjang 63 meter, dan lebar 19 meter ini mampu menyalurkan listrik sebesar 10 mega watt. Sebelum datang ke Aceh, kapal ini pernah bertugas di Pontianak (1997), Bali (1999), dan kembali ke Pontianak (2001). Hadirnya kapal PLTD ini di Aceh atas permintaan Abdullah Puteh, Gubernur Aceh saat itu, untuk mengatasi krisi listrik yang terjadi tahun 2003.

Setahun lebih bertugas di Aceh, perjalanan kapal tersebut harus terhenti pada 26 Desember 2004. Saat merapat di Pelabuhan Ulee Lheue untuk mengisi bahan bakar, tiba-tiba tsunami datang menghantam.

Hasil gambar untuk pltd apung di aceh


Dari 11 orang awak dan beberapa warga yang berada di atas kapal ketika tsunami terjadi, hanya satu orang yang berhasil selamat. Fenomena pergeseran kapal ini menunjukkan kedahsyatan kekuatan gelombang yang menimpa Serambi Makkah kala itu.
Saat tsunami menerjang tanah rencong, lanjut Iwan, ada 11 ABK yang berada di kapal. Dari 11 orang itu, hanya 1 ABK yang selamat. ABK asal Kalbar tersebut beruntung selamat karena masih tetap berada di atas kapal ketika tongkang itu terbawa ombak ke daratan.

Hasil gambar untuk pltd apung di aceh

\\\"Pas air surut, teman-temannya pada turun dari kapal. Hanya dia sendiri yang tidak turun. Nah, saat air laut mulai naik, teman-temannya itu kena tsunami, sementara dia yang tetap berada di atas kapal selamat,\\\" kata Iwan.

Wisatawan bisa berkunjung ke tempat ini untuk membuktikan kedahsyatan Tsunami Aceh. Sejak April 2012, di sekeliling area dipagari besi setinggi 1,5 meter. Beragam fasilitas ditambah, mulai dari jembatan, prasasti hingga ruang dokumentasi.

Hasil gambar untuk pltd apung di aceh
Sejak beberapa tahun ini, pengunjung yang datang untuk menyaksikan bangkai kapal tersebut, semakin banyak. Bahkan, ketika baru mendarat, orang dari luar Aceh menjadikan kapal PLTD Apung I ini sebagai tujuan pertamanya.


Untuk mencapai lokasi PLTD Apung ini bisa dengan menggunakan labi-labi (angkutan umum) jurusan Uleee Lheue turun di simpang Punge Blang Cut atau agar lebih mudah menaiki becak motor dengan tarif Rp25.000,00 dari Terminal Keudah, Banda Aceh.
Untuk mencapai bangkai Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung I, pengunjung harus memasuki jalan kampung sejauh kurang lebih 300 meter. Jalan itu tidak terlalu lebar, namun sudah beraspal mulus.
Hasil gambar untuk pltd apung di aceh
Sepanjang jalan, berjejer rumah-rumah penduduk Kampung Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, yang terlihat masih baru. Ketika gelombang tsunami menghantam Banda Aceh, 26 Desember 2004, sebagian besar rumah penduduk itu habis terseret air laut.

Lalu, tampaklah buritan kapal PLTD Apung I, yang teronggok di tengah-tengah kampung. Semakin dekat, ukuran besar kapal milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu semakin terasa. Cerobong asapnya menjulang tinggi ke langit.




Sumber :

https://www.google.com.sg/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiWg8nHyLvOAhXGoZQKHU_GDgAQFgg4MAc&url=http%3A%2F%2Fwww.indonesiakaya.com%2Fkanal%2Ffoto-detail%2Fmonumen-pltd-apung-saksi-bisu-kedahsyatan-tsunami-aceh&usg=AFQjCNGr0zhosEwQnQ94LVC5jQzd-n8TkQ&sig2=mFdGB-oxZsUIy0GfKJLF5w

https://www.google.com.sg/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=10&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiWg8nHyLvOAhXGoZQKHU_GDgAQFghFMAk&url=http%3A%2F%2Fwww.travellers.web.id%2Findonesia%2Faceh%2Ffloating-pltd-ship%2F&usg=AFQjCNFrpzqhicU3XJ00VGdSQ5S-DLWOkQ&sig2=bPgPPsmEGuDY3075_HDkEA

https://www.google.com.sg/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=12&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiWg8nHyLvOAhXGoZQKHU_GDgAQFghRMAs&url=http%3A%2F%2Fwww.mongabay.co.id%2F2015%2F02%2F01%2Fpltd-apung-jejak-tsunami-aceh-yang-kini-menjadi-objek-wisata-bersejarah%2F&usg=AFQjCNEmZQurTNUuZCfJ4QPea_78zJaJ_w&sig2=ncmwOmUV7KbRLb8TpH2RhQ

https://www.google.com.sg/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=14&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiWg8nHyLvOAhXGoZQKHU_GDgAQFghfMA0&url=http%3A%2F%2Fnews.detik.com%2Fberita%2F1511341%2Fkapal-pltd-apung-i-saksi-bisu-kedahsyatan-tsunami-aceh-2004&usg=AFQjCNFx3_wbYbaCwlSDQHYy8XuTJL6FYw&sig2=q5XzUANICXWZ2Vl6MHKagg







Friday, 5 August 2016

MUSEUM TSUNAMI BANDA ACEH

Museum ini dibangun oleh BRR NAD-NIAS setelah perlombaan desain yang dimenangkan M. Ridwan Kamil, dosen ITB dan berhak atas dana 100 juta rupiah. Museum ini sendiri menghabiskan 140 Milyar untuk pembangunannya. Bila diperhatikan dari atas, museum ini merefleksikan gelombang tsunami, tapi kalo dilihat dari samping (bawah) nampak seperti kapal penyelamat dengan geladak yang luas sebagai escape building.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mus.aceh/ada-apa-di-dalam-museum-tsunami-aceh_551229d4a33311f056ba7ecb
Museum ini dibangun oleh BRR NAD-NIAS setelah perlombaan desain yang dimenangkan M. Ridwan Kamil, dosen ITB dan berhak atas dana 100 juta rupiah. Museum ini sendiri menghabiskan 140 Milyar untuk pembangunannya. Bila diperhatikan dari atas, museum ini merefleksikan gelombang tsunami, tapi kalo dilihat dari samping (bawah) nampak seperti kapal penyelamat dengan geladak yang luas sebagai escape building.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mus.aceh/ada-apa-di-dalam-museum-tsunami-aceh_551229d4a33311f056ba7ecb
foto Museum Tsunami aceh


Museum tsutami Aceh yang dibangun oleh beberapa lembaga yang sekaligus merangkap panitia. Di antaranya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai penyandang anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) sebagai penyandang anggaran perencanaan, studi isi dan penyediaan koleksi museum dan pedoman pengelolaan museum), Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, Pemerintah Kotamadya Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk mengenang peristiwa tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih kurang 240,000. Museum ini dibangun pada tahun 2006 diatas lahan lebih kurang 10,000 persegi yang terletak di Ibukota provinsi Nanggroes Aceh Darussalam yaitu Kotamadaya Banda Aceh dengan anggaran dana sebesar kitar Rp 140 milyar.  Menurut Eddy Purwanto sebagai Penggagas Museum Tsunami Aceh dari BRR Aceh, Museum ini dibangun dengan 3 alasan:
1. untuk mengenang korban bencana Tsunami
2. Sebagai pusat pendidikan bagi generasi muda tentang keselamatan
3. Sebagai pusat evakuasi jika bencana tsunami datang lagi.”


fungsi Museum Tsunami aceh

Pembangunan museum ini bertujuan  tidak hanya menjadi sebuah bangunan monumen, tetapi juga sebagai objek sejarah, dimana bangunan ini menjadi tempat pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami. Selain itu bangunan ini diharapkan menjadi warisan untuk generasi Aceh di masa mendatang sebagai pesan dan pelajaran bahwa tsunami pernah melanda Aceh yang telah menelan banyak korban. Bangunan museum ini terdiri dari 4 tingkat dengan hiasan dekorasi bernuansa islam. Dari arah luar dapat terlihat bangunan ini berbentuk seperti kapal, dengan sebuah mencu suar berdiri tegak di atasnya. Tampilan eksterior yang luar biasa yang mengekspresikan keberagaman budaya Aceh terlihat dari ornamen dekoratif unsur transparansi elemen kulit luar bangunan. Ornamen ini melambangkan tarian saman sebagai cerminan Hablumminannas, yaitu konsep hubungan antar manusia dalam Islam.

Air Mata di Museum Tsunami Aceh Bikinan Kang Emil


Pada lantai 3 Museum Tsunami Aceh, terdapat beberapa fasilitas seperti ruang geologi, perpustakaan, musalla, dan souvenir. Pada ruang geologi, pengunjung dapat memperoleh informasi mengenai kebencanaan, bagaimana gempa dan tsunami terjadi, melalui penjelasan dari beberapa display dan alat simulasi yang terdapat dalam ruangan tersebut.

Di tingkat akhir gedung Museum Tsunami Aceh, difungsikan sebagai escape building atau penyelamatan diri ketika tsunami terjadi lagi di masa yang akan datang. Tingkat atap ini tidak dibuka untuk umum karena mengingat konsep keselamatan dan keamanan. Dari tingkat atap ini, hampir keseluruhan daerah kota Banda Aceh dapat terlihat dari atas gedung.


objek Museum Tsunami aceh



 Museum Tsunami Aceh terletak di lokasi tamana sari  kota Banda Aceh kira-kira 500 meter  dari Masjid Raya Biturahman  Banda Aceh.

 Fungsi Museum Tsunami Aceh  adalah :

1. Sebagai objek sejarah, dimana museum tsunami akan menjadi pusat penelitian dan pembelajaran   tentang bencana tsunami.

2. Sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami.

3. Sebagai warisan kepada generasi mendatang di Aceh dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi tsunami.

4. Untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia terletak di “Cincin Api” Pasifik, sabuk gunung berapi, dan jalur yang mengelilingi Basin Pasifik. Wilayah cincin api merupakan daerah yang sering diterjang gempa bumi yang dapat memicu tsunami.

Museum tsunami Aceh hingga  saat ini masih sangat ramai dikunjungi oleh wisata / pelancong domistik dan manca Negara. Menurut data Statistik  Aceh mulai tahun 2010 sampai tahun 2012   peningkatan pengunjung  sangat tinggi namun pada tahun 2013 sudah agak menurun. Museum Tsunami Aceh yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Februari 2009. Dan dibuka untuk umum pada 8 Mei 2011 yang di isi dengan  55 koleksi  terdiri dari :  7 unit maket, 22 unit alat peraga, dan 26 unit foto ataupun lukisan yang menggambarkan keadaan tsunami di Aceh.  dan  ketika memasuki ruang koleksi, suasana mengenang tsunami terusik oleh kondisi koleksi yang tak sempurna. Sejumlah koleksi, seperti ruang simulasi gempa, alat peraga rumah tahan gempa dan rumah tak tahan gempa, serta alat peraga gelombang tsunami. Desain dan pembangunan Museum Aceh dengan konsep ‘Rumoh Aceh as Escape Building’ mempunyai beragam filosofi. Pada lantai dasar museum ini menceritakan bagaimana tsunami terjadi melalui arsitektur yang didesain secara unik. Pada masing-masing ruangan memiliki filosofi tersendiri yang mendeskripsikan gambaran tentang tsunami sebagai memorial dari bencana besar yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam yang menelan ribuan korban jiwa.

 Menjelajahi isi dan fungsi Museum Tsunami aceh



 Filosofi dari design Museum Tsunami Aceh segagai berikut:

1. Space of Fear (Lorong Tsunami)

Akses awal lorong Tsunami untuk  pengunjung  memasuki Museum Tsunami yang memiliki panjang 30 m dan tinggi hingga 19-23 m melambangkan tingginya gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam.  Air mengalir di kedua sisi dinding museum,  dengan suara gemuruh air dan cahaya yang remang-remang agak gelap, lembab dan lorong yang sempit, mendeskripsikan perasaan rasa takut masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi, yang disebut space of fear.

2. Space of Memory (Ruang Kenangan)

Setelah berjalan melewati Lorong Tsunami yang panjang 30 m, pengunjung memasuki Ruang Kenangan (Memorial Hall). Ruangan ini memiliki 26 monitor sebagai lambang dari kejadian tsunami yang melanda Aceh. Setiap monitor menampilkan gambar dan foto para korban dan lokasi bencana yang melanda Aceh pada saat tsunami sebanyak 40 gambar yang ditampilkan dalam bentuk slide. Gambar dan foto ini seakan mengingatkan kembali kejadian tsunami yang melanda Aceh atau disebut space of memory yang sulit di lupakan dan dapat dipetik hikmah dari kejadian tersebut. Ruang dengan dinding kaca ini memiliki filosofi keberadaan di dalam laut (gelombang tsunami). Ketika memasuki ruangan ini, pengunjung seolah-olah tengah berada di dalam laut, dilambangkan dengan dinding-dinding kaca yang menggambarkan luasnya dasar laut, monitor-monitor yang ada di dalam ruangan dilambangkan sebagai bebatuan yang ada di dalam air, dan lampu-lampu remang yang ada di atap ruangan dilambangkan sebagai cahaya dari atas permukaan air yang masuk ke dasar laut.

 3. Space of Sorrow (Ruang Sumur Doa)

Melalui Ruang Kenangan (Memorial Hall), pengunjung akan memasuki Ruang Sumur Doa (Chamber of Blessing). Ruangan berbentuk silinder dengan cahaya remang dan ketinggian 30 meter ini memiliki kurang lebih 2.000 nama-nama koban tsunami yang tertera disetiap dindingnya. Ruangan ini difilosofikan sebagai kuburan massal tsunami dan pengunjung yang memasuki ruanga ini dianjurkan untuk mendoakan para korban menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Ruangan ini juga menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah) yang dilambangkan dengan tulisan kaligrafi Allah yang tertera di atas cerobong dengan cahaya yang mengarah ke atas dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. melambangkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah (penciptanya).



4. Space of Confuse (Lorong Cerobong)

Setelah Sumur Doa, pengunjung akan melewati Lorong Cerobong (Romp Cerobong) menuju Jembatan Harapan. Lorong ini didesain dengan lantai yang bekelok dan tidak rata sebagai bentuk filosofi dari kebingungan dan keputusasaan masyarakat Aceh saat didera tsunami pada tahun 2004 silam, kebingungan akan arah tujuan, kebingungan mencari sanak saudara yang hilang, dan kebingungan karena kehilangan harta dan benda, maka filosofi lorong ini disebut Space of Confuse. Lorong gelap yang membawa pengunjung menuju cahaya alami melambangkan sebuah harapan bahwa masyarakat Aceh pada saat itu masih memiki harapan dari adanya bantuan dunia untuk Aceh guna membantu memulihkan kondisi fisik dan psikologis masyarakat Aceh yang pada saat usai bencana mengalami trauma dan kehilangan yang besar.

 5. Space of Hope (Jembatan Harapan)

Lorong cerobong membawa pengunjung ke arah Jembatan Harapan (space of hope). Disebut jembatan harapan karena melalui jembatan ini pengunjung dapat melihat 54 bendera dari 54 negara yang ikut membantu Aceh pasca tsunami, jumlah bendera sama denga jumlah batu yang tersusun di pinggiran kolam. Di setiap bendera dan batu bertuliskan kata ‘Damai’ dengan bahasa dari masing-masing negara sebagai refleksi perdamaian Aceh dari peperangan dan konflik sebelum tsunami terjadi. dunia melihat secara langsung kondisi Aceh, mendukung dan membantu perdamaian Aceh, serta turut andil dalam membangun (merekontruksi) Aceh setelah bencana terjadi.